Go to...

Pulau Seribu Masjid Yang Damai

PULAU SERIBU MASJID YANG DAMAI

(Refleksi atas pristiwa SARA 17 Januari 2000 di Mataram)

(Jefry Yuwanto D)

20150529ic_mataram

Indonesia dan Keragaman

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang diciptakan dengan beranekaragam suku, budaya, bahasa, dan agama. Semua ini merupakan kenyataan yang harus di terima oleh setiap manusia apabila ingin hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia.

Dalam keanekargaman ini masyarakat Indonesia telah dipersatukan oleh Pancasila yang merupakan ideologi bangsa. Sebagai ideologi nasional, Pancasila telah memainkan peran sebagai alat untuk mempersatukan bangsa, memelihara, membimbing dan mengukuhkan persatuan dan kesatuan. Membimbing dan mengarahkan bangsa menuju tujuannya. Memberikan tekad untuk memelihara dan mengembangkan identitas bangsa. Selain Pancasila, kita juga mengenal semboyan bangsa yaitu Bhineka Tunggal Ika “Walaupun berbeda – beda tapi tetap satu”. Semboyan bangsa ini sudah lama dipakai oleh bangsa Indonesia untuk membangun relasi antar masyarakat yang beraneka ragam. Pada dasarnya semua bertujuan, untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang damai dan bersatu.

Salah satu keanekragaman bangsa Indonesia adalah adanya keanekaragaman agama antaralain : Islam Katholik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghuchu, dimana di antara agama – agama ini terbentuk toleransi agama yang sangat tinggi. Dalam negara yang berke-Tuhanan, agama sangat berperan untuk meletakkan dasar moral, etis dan spiritual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Boleh dikatakan agama menjadi salah satu bagian yang turut menentukan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia, apabila agama berjalan sesuai dengan jalur yang benar.

Namun kenyataan yang ada, terkadang agama sering dijadikan sebagai alat / tameng untuk kepentingan individu, kelompok atau organisasi tertentu untuk mencapai tujuannya. Hal ini tentu sikap yang menghalalkan segala cara dan kalau perbuatan ini berlangsung, pasti berdampak buruk pada relasi dan kehidupan antar umat beragama.

“Pulau Seribu Masjid Yang Toleran”

Mataram sebagai ibu kota propinsi Nusa Tenggara Barat, sangat mengedepankan peran dan kedudukan agama sebagai landasan moral, etis dan spiritual dalam meningkatkan dan memantapkan keharmonisan kerukunan serta keserasian hidup antar umat beragama.

Adanya toleransi dan saling menghormati dalam semangat kemajemukan hadir melalui dialog antar umat beragama dengam memerankan fungsi lembaga – lembaga keagamaan yang ada di Kota Mataram untuk ikut dalam mengatasi dampak perubahan yang terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, tentu memiliki arti yang sangat penting guna memperkokoh jati diri dan kepribadian bangsa serta memperkuat kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sesungguhnya bukan hal luar biasa ketika beberapa tahun lalu pencanangan kota Mataram dengan sebuah motto ; Kota “IBADAH YANG MAJU DAN RELEGIUS”, karena makna yang terkandung di dalamnya jiwanya telah melekat erat di dalam prilaku warga Kota Mataram.

Selain itu Kota Mataram juga di kenal dengan nama kota Ibadah, terbukti dari banyaknya tempat – tempat ibadah dan keanekaragaman agama yang ada di dalamnya serta toleransi antar umat beragama yang cukup tinggi. Hal ini selaras dengan visi Propinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Barat yang sejahtera, beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai iptek yang di dukung oleh suasana yang damai, demokratis berkeadilan, mampu bedaya saing, memiliki etos kerja tinggi serta disiplin.

Dengan adanya sikap saling menghormati, setiap penduduk kota Mataram dapat dengan bebas memilih agama yang akan dianutnya sehingga muncul berbagai macam agama yang berkembang saat ini antaralain : Islam Katholik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghuchu. Pelaksanaan ajaran agama berlangsung dengan baik dan saling menghormati, sehingga harapan terciptanya damai dan sejahtera di Kota Mataram dapat tewujud.

Namun perlu di pahami, bahwa ada saja pribadi, kelompok atau organisasi tertentu yang tidak suka dengan situasi damai, rukun dan harmonis yang sudah terjalin di Kota Mataram bertahun – tahun lamanya, dari generasi ke gerenasi. Sehingga hal memilukan terjadi pada peristiwa tanggal 17 Januari 2000 di Kota Mataram yang mengatasnamakan agama.

Bercermin Dari Peristiwa 17 Januari 2000

Peristiwa Kerusuhan pada tanggal 17 Januari 2000 bukanlah peristiwa yang membawa kebaikan, keindahan dan kedamaiaan, justru sebaliknya kerusuhan yang di kenal dengan sebutan peristwa 171 adalah peristiwa yang menghancurkan dan merusak sendi – sendi keberagamaan, hancurnya perekonomian dan telah menciptakan teromatis yang mendalam di kalangan antar umat beragam. Tentunya, secara jujur kita mau mengatakan bahwa peristiwa 171 sangatlah merugikan, tidak hanya dari sudut ekonomi tapi hubungan baik yang sudah terjalin selama betahun – tahun lamanya hancur dalam sekejab.

Kalau kita bercermin dari peristiwa ini, tentu kita akan mengatakan bahwa peristiwa 17 Januari 2000 tidak perlu terulang lagi, kita pasti tidak ingin menyelipkan cerita masa lalu yang buruk untuk anak cucu kita. Kita pasti ingin keturunan kita, mendengar kisah sejarah hubungan yang baik di antara umat beragama. Yang di toreh dalam lembaran sejarah yang putih, bersih tentang kehidupan yang baik di Pulau Seribu Masjid yang kita cintai ini.

Kita perlu menyatukan pandangan dan kemauan untuk membangun Pulau tercinta kita Mataram Nusa Tenggara Barat dan menolak hal – hal yang merusak, walaupun di kemas dalam bentuk apa pun, termasuk agama demi harapan dan kemajuan bersama hingga terciptanya situasi yang penuh Damai dan Sejahtera. Sehingga melalui situasi yang Damai dan Sejahtera kita dapat beraktifitas untuk membangun Propinsi Nusa Tenggara Barat yang sesuai dengan visi dan misinya.

Jangan Usir Damai Di Tanah Kelahiranku

Pulau Seribu Masjid adalah tempat yang sangat kubanggakan, bagaimana tidak, ditanah ini aku dilahirkan, bertumbuh hingga sampai saat ini. Aku mengenal benar karakteristik sesamaku di pulau ini. Baik mereka yang berasal dari suku Sasak, Samawa, Embojo dan suku Bali. Kebersamaan dan keramaham yang terbangun di antara kami, tetap melekat dan menjadi bagian kuat dalam jiwaku.

Saat aku menjadi perantau di daerah lain adat istiadat dan budaya tanah kelahirankulah yang tetap ku bawa dan tidak terhapus dari ruang hatiku. Meski pun saya bukan asli dari suku – suku yang ada di Nusa Tenggara Barat, tapi jiwa dan semangat saya adalah asli dari dareah ini. Kalau orang bertanya pada saya dari mana asalmu, saya selalu mengatakan dari Pulau Seribu Masjid – Mataram Nusa Tenggara Barat, dan lebih lanjud saya sampaikan bahwa saya Putra Daerah.

Begitu besar kecintaan saya terhadap Pulau ini, tehadap sesamaku, terhadap harapan – harapannya yang ingin membangun. Tentu saya dan Anda (saudaraku/sahabatku) berharap tidak ada peristiwa-peristiwa masa lalu yang kelam, merusak dan menghancurkan tanah tempat kelahiran, sehingga damai yang sudah terbangun pasca peristiwa 17 Januari 2000 dapat terus ada, tercipta dan semakin kokoh. Supaya kita dapat bercerita tentang kehidupan yang baik kepada keturunan kita tentang persahabatan dan kekeluargaan diantara kita para pemeluk agama.

BIARKAN DAMAI ITU ADA DI PULAU INI ! KITA HARUS SEPAKAT UNTUK HAL ITU.

WASALLAM

 

 

 

About Informasi Untuk Anda

One Response to “Pulau Seribu Masjid Yang Damai”

  1. August 27, 2016 at 7:28 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Download Youtube Now


Recent Comments